Kamis, 17 Februari 2011 22:55:19 WIB
Reporter : Deni Ali Setiono
Gresik (beritajatim.com) - Aktivis Pusat Demokrasi dan Kemanusiaan (LSM Pudak) menuduh distribusi beras untuk keluarga miskin (raskin) di Kabupaten Gresik banyak disimpangkan. Indikasinya, jumlah data RTSPM (rumah tangga sasaran penerima manfaat) jumlahnya berbeda, juga karung berasnya berbeda dengan ketentuan.
Berdasar data yang diungkap LSM Pudak Gresik, terjadi perbedaan jumlah RTSPM dengan jumlah gakin. Dalam RPJMD Gresik 2011-2015 disebutkan, gakin mencapai 223.551 namun RTSPM penerima raskin hanya 54.414.
"Dengan demikian aselinya raskin perkeluarga mendapat 15 kilogram, hanya mendapat 5 kilogram per keluarga. Karena harus dibagi rata. Di situlah peluang disimpangkan," kata Faried Abdillah, Koordinator LSM Pudak, Kamis (17/02/2011).
Selain itu, LSM Pudak juga mengungkapkan, ada perbedaan kemasan raskin dari ketentuan. Dalam ketentuannya harus dikemas 15 kilogram, nyatanya Bulog mengemasnya dalam 50 kilogram. Hal itu berlangsung dalam dua bulan, Januari-Pebruari. Akibatnya terjadi perbedaan biaya yang dikeluarkan.
"Bila untuk 50 kilogram dengan harga karung Rp 1.500, maka 600 tonnya hanya membutuhkan 12.000 karung. Sedangkan untuk 15 kilogram membutuhkan 40.000 karung. Berarti ada penghematan Rp 60 juta. Terus itu dikemanakan," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan aktifis PMII Cabang Lamongan itu juga menemukan data, bila isi beras yang ada dalam karung berbeda dengan laporannya. Dalam laporannya atau yang tertera dalam karung tertulis 50 kilogram, nyatanya saat sampai di desa, beratnya berkurang antara 1-5 kilogram.
"Akibatnya, panitia desa sulit menditribusikannya. Kalau sudah begini siapa yang salah. Pokoknya harus dilakukan pendataan ulang penerima raskin maupun lainnya. Kalau tidak kami akan melaporkan kepada kejaksaan," ancamnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Sub Divisi Regional Utara Bulog Jawa Timur, M Iskak menolak tuduhan tersebut. Menurutnya, pihaknya tidak tahu-menahu tentang RTSPM. Karena tugas Bulog hanya mengirim beras dari gudang sampai titik distrubisi sesuai dengan data yang diterima dari Badan Pusat Statitik (BPS).
"Kalau ada perbedaan atau tidak, kami tidak tahu. Karena yang mengelola itu BPS," elaknya.
Terkait karung raskin yang berbeda, Iskak menyebutkan, bila hal itu disebabkan oleh stok beras di gudang. Saat itu di gudang ada 1.500 ton beras jatah raskin. Sebanyak 900 ton untuk jatah Sidoarjo dan sisanya untuk Gresik. Padahal, jatah Gresik 816.210 kilogram untuk 54.414 gakin.
"Jadi itu sejarahnya. Itupun hanya berjalan satu bulan saja. Selebihnya akan kami kembalikan sesuai dengan ketentuan," tegasnya. [dny/but]
sumber : http://www.beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2011-02-17/93212
No comments:
Post a Comment